Saturday, June 28, 2008

Komik Asem!

Haaiiiyaahhh...
Beginilah jadinya kalau aku nyoba-nyoba ngomik.
Alhasil...
Yang penting berkarya!!
Nah, mana karyamu??







































Thursday, June 26, 2008

Komikku...

Selamat siang ! Mungkin ini adalah kata-kata yang tepat untuk dunia perkomikan di Indonesia sekarang ini, apalagi kalau kita berbicara tentang manga dan komik-komik asing yang semakin berkembang di Indonesia.
Ngomong-ngomong soal manga, jujur saja kita pasti mengenalnya dan pernah membacanya begitu juga dengan komik-komik asing lainnya.
Namun terkadang banyak orang yang terlalu merendahkan (yah semacam mengolok-olok gitulah), “kenapa sih gaya gambarnya kaya’ gitu , kok ikut-ikutan gaya komik jepang ! Mbok ya pake gaya gambarnya sendiri gitu lho !” ...Yah memang begitulah hidup ini mau apa saja mesti dikritik dulu, emangnya mereka itu udah yang paling bener apa ?
Asem...
Ngelanjutin yang tadi sempat terputus, soal yang tadi tuh! emangnya nggak boleh apa pake gaya gambar seperti mereka? apa salahnya kalau kita mengagumi, toh kita juga tidak terpaku dengan gaya gambar tersebut. Adalah hak kita untuk mengembangkan, bahkan kalau bisa malah harus lebih bagus dari gaya gambar yang kita contoh.
Bila kita lihat, banyak sekali komikus-komikus” baru” di Indonesia ini yang memakai manga sebagai aliran mereka. Akan tetapi banyak juga yang memakai gaya amerika dalam komik yang mereka buat. Kalo nyiptain gaya sendiri gimana?!...yah terserah elo! Menurut pendapat saya dan bayak orang (maksudnya temen-temen gue), kalo mau nyiptain gaya sendiri itu nggak mudah! Alasannya adalah karena kita sudah terpengaruh oleh idealisme mereka (komikus idola masing-masing). Nggak usah nyangkal deh, itu kan hak kita! Originalitas itu nggak gampang (maksudnya apa, gue juga nggak ngerti).

Berikut adalah beberapa sampel komik yang pernah saya buat semasa kuliah dulu. Yah... memang nggak oke banget sih... Tapi setidaknya aku berusaha untuk membuat komikku sendiri...


not1not2


not3
po1

po2
po3

t41
t42

Manga

Manga diperkenalkan kali pertama pada tahun 1814 oleh Katsushika Hokusai, seorang seniman ukiyo-e (woodblock printing) yang terkenal. Ukiyo-e adalah teknologi pencetakan pada kertas dengan menggunakan blok-blok kayu. Kata manga dipakai Hokusai untuk menyebut gambar komikal buatannya yang berbeda dengan gambar pemandangan atau manusia yang serius dan indah. Bahkan dia mengartikan “manga” sebagai gambar asal-asalan, karena dia menggambar tanpa tujuan dan tema yang jelas.

Sebelum orang mengenal manga, pada abad pertengahan di Jepang sudah dikenal seni menulis cerita disertai lukisan untuk menggambarkan jalannya cerita. Itupun belum berbentuk buku, tapi masih dalam bentuk gulungan kertas yang disebut emakimono. Baru pada abad ke-18 (zaman Edo), mulai dibuat buku cerita bergambar yang mirip dengan manga sekarang ini yang disebut kusa-zoushi dimana gambar lebih dominan daripada teks.

Buku tersebut dicetak dengan teknologi ukiyo-e dalam beberapa format yaitu akahon, aohon, kurohon, dan kibyoushi sesuai dengan warna sampul masing-masing. Buku cerita bergambar ini ditujukan untuk anak-anak dan orang dewasa yang kurang bisa membaca. Kisahnya bervariasi mulai dari komedi, drama, petualangan sampai yang “dewasa”. Pada akhir abad ke-19, kusa-zoushi terpengaruh gaya kartunis Barat dan mulai beralih menjadi format komik strip seperti yang dimuat di surat kabar negara-negara Barat.

Lahirnya manga seperti yang kita baca sekarang ini ditandai dengan gebrakan yang dibuat oleh Osamu Tezuka. Pada tahun 40-an Tezuka bekerja pada sebuah surat kabar sebagai penggambar komik strip. Merasa tidak puas dengan gaya komik strip yang tidak memberikan kebebasan untuk menampilkan gerakan dan emosi yang diinginkannya, sehingga kreativitasnya jadi terbatas pada 4 kotak, Tezuka mulai menerapkan hal-hal baru seperti teknik close up, permainan angle, efek slow motion dan sebagainya sehingga menghasilkan beratus-ratus halaman untuk satu cerita. Pada tahun 1947 karya Osamu Tezuka berjudul Shintakarajima (New Treasure Island) diterbitkan dalam bentuk akahon berarti “buku merah” (karena sampulnya berwarna merah menyolok).

Akahon adalah buku komik dengan kertas kualitas rendah tapi digemari anak-anak sebagai hiburan murah meriah dikala Jepang dilanda kemiskinan akibat Perang Dunia II. Shintakarajima adalah manga pertama yang memperkenalkan teknik ilustrasi baru Tezuka dan langsung laku keras terjual hingga 400.000 kopi. Sejak saat itu banyak manga-ka (sebutan untuk pembuat manga) yang berlomba-lomba meniru teknik Osamu Tezuka. Gebrakan yang dibuat oleh “God of Manga” ini membuat manga semakin disukai dan industrinya berkembang pesat meski sempat terhalang oleh kondisi Jepang pasca PD II. (Animonster #25, 2001: 42).

Adapun jenis-jenis manga adalah:

  1. Shounen Manga

Shounen manga adalah manga yang lebih dikhususkan untuk pembaca laki-laki antara umur 10-18 tahun. Ceritanya berkisar pada hal-hal yang disukai laki-laki, seperti olahraga atau petualangan seru penuh aksi. Popularitas shounen manga berawal dengan terbitnya dua mingguan shounen pada tahun 1959, yaitu Weekly Shounen Magazine (penerbit Kodansha) dan Weekly Shounen Sunday (penerbit Shogakukan).

Keduanya adalah majalah shounen pertama yang terbit seminggu sekali sebab sebelumnya majalah anak-anak selalu terbit bulanan. Isi kedua majalah ini awalnya sama saja dengan majalah Bobo, yaitu informasi, pengetahuan dan hiburan berupa manga.

Waktu itu manga cuma sekitar 40% dari isi majalah. Ternyata manga-lah yang menjadi daya tarik utama majalah tersebut, maka penerbit segera menambah porsi manga hingga lebih dari setengah jumlah halaman yang tersedia. Dalam waktu singkat Shounen Magazine dan Shounen Sunday menjadi bacaan tetap anak-anak yang mayoritas adalah laki-laki. Tema manga yang paling digemari waktu itu adalah kisah petualangan, humor dan science fiction yang diilhami oleh karya-karya Tezuka.

Namun kemudian para pembaca majalah shounen mulai beranjak dewasa dan banyak pemuda beralih dari majalah anak-anak ke gekiga, yaitu manga dengan cerita bertema serius yang disewakan di toko-toko manga. Kisah gekiga lebih bersifat realistis dengan kesan suram dan diwarnai kekerasan.

Gekiga yang disukai muda-mudi dan orang dewasa ini membuka peluang bagi munculnya majalah seinen (pemuda berumur 18-25 tahun) seperti Manga Action dan Big Comic yang memuat manga dengan gaya cerita gekiga. Persaingan ketat antara majalah seinen dan shounen dalam memperebutkan pasar ini membuat para manga-ka mengubah gaya mereka.

Shounen manga mengadaptasi gaya gekiga untuk mempertahankan pembaca yang mulai tumbuh dewasa. Sedangkan gekiga yang bernuansa suram dan serius diubah menjadi lebih cerah dengan humor khas shounen manga. Tetapi perubahan ini justru menyebabkan Shounen Magazine dan Shounen Sunday ditinggalkan oleh pembaca cilik mereka yang kemudian memilih membaca Weekly Shounen Jump (penerbit Shueisa) yang tetap mempertahankan gaya shounen manga murni.

Saat pertama kali terbit di tahun l968, Shounen Jump tidak ada apa-apanya dibandingkan dua raksasa majalah shounen pendahulunya. Manga-ka yang bekerja pada penerbit Shueisa cuma komikus-komikus baru yang belum punya nama karena para manga-ka terkenal telah dimonopoli Kodansha dan Shogakukan. Keadaan ini malah berbalik menjadi keuntungan bagi Jump sebab penerbitnya dapat mengatur manga-ka mereka untuk membuat manga sesuai dengan selera pembaca yang mereka ketahui dari hasil survei pembaca.

Para manga-ka terkenal itupun tidak mau kreativitasnya didikte. Mulai tahun 70-an, Jump berhasil mengumpulkan lebih banyak pembaca daripada Shounen Magazine dan Shounen Sunday. Setiap tahunnya oplah Jump meningkat terus hingga jutaan eksemplar per tahun. Hingga kini Shounen Jump merupakan majalah shounen terpopuler di Jelpang dan sudah menerbitkan manga-manga keren seperti Dragon Ball karya Akira Toriyama, Slam Dunk karya Inoue Takehiko dan Rurouni Kenshin-nya Watsuki Nobuhiro. (Animonster #25, 2001: 42-43).

  1. Shoujo Manga

Shoujo manga yaitu manga yang lebih diperuntukkan bagi anak perempuan. Jepang adalah negara pertama yang mempelopori lahirnya komik khusus untuk kaum hawa dan satu-satunya di dunia yang perkembangan komik perempuannya sangat maju.

Di negara-negara Barat, komik selalu dianggap sebagai boy’s stuff sehingga tidak pernah ada inisiatif untuk membuat komik perempuan. Sementara di Jepang shoujo manga berkembang sama seperti shounen manga. Lagi-lagi kita penggemar manga, terutama shoujo, harus berterima kasih pada Tezuka sensei. Dulu shoujo manga hanya dibuat dalam bentuk komik strip dengan kisah sederhana yang lebih bersifat humor. Kemudian Tezuka mempelopori shoujo manga yang lebih panjang dan menggunakan teknik ilustrasi yang lebih menarik serta mengkombinasikan tema petualangan, tragedi dan humor dalam karyanya yang berjudul Ribon no Kishi (Knight of Ribbon) yang diterbitkan pada tahun 1954.

Sejalan dengan perkembangan shounen manga, shoujo manga juga terbit dalam majalah bulanan shoujo seperti Ribon dan Nakayoshi. Tetapi mayoritas manga-kanya adalah manga-ka pria yang juga mengarang komik untuk majalah shounen. Sebelum tahum 1960 manga-ka wanita masih sangat jarang. Tema shoujo manga waktu itu masih berkisar pada anak sekolahan atau hubungan ibu-anak dengan nuansa komedi, horor atau tragedi yang membuat pembacanya meneteskan air mata. Belum ada kisah percintaan romantis seperti sekarang.

Baru setelah tahun 1963 ketika majalah bulanan shoujo berubah menjadi mingguan, dibutuhkan lebih banyak manga-ka sehingga komikus wanita mulai bermunculan. Uniknya para manga-ka wanita ini rata-rata masih belia. Tahun 1964 Nakayoshi menerbitkan karya pertama Machiko Satonaka, manga-ka berumur 16 tahun. Bahkan setelah diamati, ternyata manga-ka wanita lebih mampu menyajikan kisah yang disukai pembacanya. Sejak itu popularitas shoujo manga dan manga-ka wanita menanjak dan menyamai kesuksesan shounen manga. Dengan makin meluasnya peminat shoujo manga, tema ceritanya pun berkembang, tidak lagi terbatas pada stereotype anak sekolahan (school girls). Kisah petualangan dan fantasi yang menjadi ciri khas shounen manga juga menjadi tema shoujo manga dimana jagoan utamanya adalah perempuan.

Edisi mingguan ternyata tidak bertahan lama pada majalah shoujo. Para manga-ka menjadi terburu-buru dalam menyelesaikan karyanya sehingga hasilnya kurang memuaskan. Oleh karena itu edisi mingguan berubah menjadi dua mingguan dan banyak majalah yang kembali terbit bulanan. Kelonggaran waktu ini membuat para manga-ka lebih santai dan mampu berkarya secara maksimal dalam pengolahan karakter yang lebih dalam, suasana dan setting yang mendetail untuk mendukung cerita. Mereka juga mulai mengeksplorasi tema-tema baru seperti kepahlawanan, science fiction, bahkan menampilkan kisah percintaan yang lebih “berani”, yang dibumbui dengan shounen-ai (percintaan laki-laki dengan laki-laki) dan shoujo-ai (percintaan perempuan dangan perempuan).

Variasi tema ini menyebabkan shoujo manga tidak cuma disukai anak sekolahan, tapi juga digemari wanita muda bahkan yang sudah berumah tangga. Dengan alasan ini tahun 80-an penerbit mengeluarkan josei manga dengan target pembaca wanita muda di atas 18 tahun, misalnya majalah YOU, Judy dan Comic Amour. Josei manga disukai para office ladies dan ibu-ibu muda karena gaya ceritanya mirip telenovela yang menampilkan kisah percintaan, shounen-ai bahkan pornografi (hukum sensor di Jepang lebih toleran terhadap pornografi).

Saat ini popularitas shounen manga dan shoujo manga sudah setara, tapi tak dapat disangkal kalau lebih banyak shoujo manga (baik dalam judul, manga-ka, maupun pembacanya) daripada shounen manga. Di Indonesia saja Serial Cantik dan Serial Misteri/ Horor mendominasi terbitan manga. Lagipula bagi para perempuan di luar Jepang yang di negaranya tidak tersedia komik untuk perempuan, shoujo manga-lah yang bisa memenuhi selera mereka.

Tetapi sebenarnya kaum laki-laki tidak perlu merasa malu untuk membaca shoujo manga karena tidak sedikit shoujo manga yang ceritanya tidak kalah seru daripada shounen manga. Banyak perempuan yang menggemari shounen manga, berdasarkan survey di Jepang, majalah manga favoritnya anak perempuan adalah Shounen Jump. (Animonster #25, 2001: 43-44).

  1. Doujinshi

Doujinshi adalah manga, tetapi kisah-kisah doujinshi lebih banyak dibuat berdasarkan cerita manga yang sudah ada dan dibuat oleh penggemarnya. Jadi bisa dibilang, doujinshi adalah fanfic dalam bentuk komik.

Awalnya yang membedakan doujinshi dengan manga adalah doujinshi dibuat oleh komikus amatir. Kisahnya juga bukan berdasarkan manga karangan orang lain, tapi karya orisinil sang komikus. Tapi kemudian muncul doujinshi yang dibuat oleh manga-ka profesional (biasanya memakai nama samaran) berupa parodi atau side story dari manga karangannya. Hal ini lantas diikuti oleh para penggemar manga. Sama seperti fanfic, biasanya mereka membuat kelanjutan dari manga yang sudah tamat, ending yang berbeda atau jalan cerita lain sesuai dengan kehendak hati mereka. Dan tidak sedikit para doujinshi-ka yang gambarnya mirip dengan manga aslinya.

Di Jepang membuat dan memasarkan doujinshi bukanlah perbuatan ilegal atau melanggar hak cipta, walaupun dibuat tanpa izin resmi dari pengarang aslinya. Hanya seperti layaknya komik amatiran, doujinshi dicetak dan dipasarkan sendiri oleh doujinshi-ka (sebutan untuk pengarang doujinshi) misalnya dikalangan teman-teman, toko buku bekas atau Comiket (comic market) yaitu bursa buku yang lebih banyak memperjualbelikan doujinshi. Meski begitu di Jepang sudah banyak penerbit yang mau menerbitkan doujinshi.

Sayangnya doujinshi sering digunakan orang untuk membuat versi “miring” dari manga aslinya alias mengandung unsur erotis dan pornografi. Alasannya? Mungkin supaya lebih laku untuk dijual, karena terbukti doujinshi dari manga-manga beken seperti Salior Moon dan Rurouni Kenshin diminati sama seperti manga aslinya. Walaupun itu bukan hal yang baik, setidaknya kita tahu bahwa komik amatir di Jepang dapat eksis secara independen. Hal ini mendorong munculnya banyak manga-ka baru yang sebelumnya adalah doujinshi-ka. (Animonster #25, 2001: 44).

Biasanya komik atau manga dikarang dan digambar oleh komikus itu sendiri dengan bantuan dari asisten masing-masing. Namun ada juga penulis cerita manga, tapi tidak menggambarnya yaitu genshaku-sha. Genshaku-sha hanya menulis cerita lalu digambar oleh manga-ka. Mereka bekerja sama dalam membuat manga, tapi ada pula kerja sama dalam bentuk lain dimana genshaku-sha menerbitkan karyanya dalam bentuk novel dan manga-ka membuat versi manganya atau mengerjakan ilustrasi untuk novelnya.

Di Indonesia manga terbit dalam bentuk buku per jilid. Di Jepang manga terbit dalam bentuk majalah baik secara bulanan maupun mingguan, jadi masih dalam bentuk kompilasi. Biasanya satu bab setiap kali terbit, setelah manga berseri tersebut komplit baru diterbitkan dalam bentuk tankoubon (komik buku). Dan akhir-akhir ini PT. Elex Media Komputindo (penerbit dan distributor manga di Indonesia) mulai menerbitkan manga kompilasi dalam bentuk buku.

Perkembangan Komik Indonesia

Komik Indonesia mengalami masa jayanya pada tahun 50-80an. Pada periode 1950-an mulai bermunculan komik buatan Indonesia dengan resep komik Amerika (Wiro Anak Rimba), namun yang menonjol pada era ini adalah genre humor dan wayang. Kho Wan Gie (Put On) dan Goei Kwat Siong (Si A Piao) boleh dibilang sebagai pelopor masuknya komik strip ke dalam media koran saat itu.

Periode 1960-an dimulai dengan berkembangnya komik genre fantasi petualangan (Taguan Hardjo dengan Mati Kau Tamaksa), yang kemudian dilanjutkan dengan lahirnya cerita silat mulai tahun 1968. Nama Oerip, Hans, Teguh Santosa, Hasmi, dan U Sjah mulai dikenal luas lewat karya-karyanya yang keren. Selain itu, juga muncul beberapa genre lain, misalnya wayang, fantasi, roman sejarah, maupun roman petualangan (Sandhora) dan silat romantik (Mutiara).

Periode 1970-an muncul banyak komik fantasi Indonesia, yang merupakan pengaruh masuknya komik superhero Amerika terbitan Marvel Comics, DC Comics, dan lainnya. Bahkan beberapa komikus banyak beralih membuat komik fantasi seperti Kus Bram. Selain itu juga muncul genre silat dengan fantasi dan mistik. Dalam era ini, komik silat tetap berkembang terbukti dengan munculnya nama Ganes TH, yang sangat dikenal lewat karakter Si Buta Dari Gua Hantu. Pada masa juga sempat menjadi era boomingnya cerita dongeng HC Andersen, yang kisahnya sangat digemari anak-anak masa itu. Di tahun 1975-an genre silat fantasi mengalami masa jayanya, dengan muncul komikus Jan Mintaraga dan Gerdi WK. Teguh Santosa sendiri juga banyak membuat kisah sejenis pada masa ini, sedangkan komik silat dan roman menjadi pilihan lainnya bagi para kaum muda pecinta komik.

Periode 1980-an adalah periode dimana muncul berbagai tema secara berbarengan, mulai dari silat, wayang, humor, fantasi maupun drama. Sebagian merupakan karya-karya baru, dan yang lainnya merupakan hasil cetak ulang akibat besarnya permintaan pasar saat itu. Salah satu komikus yang beken pada masa itu dengan kisah silatnya yang memikat adalah Man (Dewi Lanjar). Sayangnya, mendekati tahun 1985-an, muncul berbagai komik saduran dalam hal tema dan gaya penggambaran. Para komikus muda ini meminjam gaya komikus senior yang karyanya laku di pasaran, terutama terjadi pada genre silat. Semuanya ini akhirnya menimbulkan persaingan kurang sehat, dan disaat inilah para komikus mulai kehilangan idealismenya dan membuat komik sekedar mengikuti perintah penerbitnya. Sehingga dimulailah masa kemerosotan komik Indonesia.

Sejak tahun 1985-an, mulai jarang ditemukan komik baru. Kalaupun ada, itu merupakan cetakan ulang. Saat itulah, komik dari luar mulai gencar menyerbu Indonesia yang sedang dalam kondisi memprihatinkan karena kehilangan jati dirinya. Akhirnya komik Indonesia benar-benar hilang dalam waktu singkat, sehingga generasi muda yang lahir setelah masa tersebut tidak pernah mengecap asyiknya membaca komik serian buatan anak-anak negeri sendiri. (Animonster #25, 2001: 52-59).

Gerakan komik lokal 90-an. Setelah kemandegan komik lokal hingga awal 90-an, generasi baru mulai muncul. Anak-anak muda 90-an tumbuh bersama kejayaan kapitalisme, budaya pop global serta arus informasi yang begitu deras dari bermacam media. Penyikapan terhadap komik lokal mulai terlihat pelan-pelan, meski tidak bisa dibilang sebagai sebuah gerakan yang besar. Generasi baru 90-an sebagian besar adalah para mahasiswa perguruan tinggi di kota-kota besar terpusat di Jakarta, Bandung, Yogya pelan-pelan mulai membangun frame gerakan komik masing-masing. Pergesekan dengan wilayah-wilayah lain seperti politik, sastra, filsafat, seni murni yang akrab menjadi wacana mahasiswa cukup mempengaruhi mereka. Regenerasi komik lokal yang terputus total ternyata menghasilkan generasi yang betul-betul baru dan sama sekali tidak mewarisi gaya komik lokal sebelumnya.

Komikus-komikus muda cenderung menerima pengaruh dari style komik Jepang dan Amerika. Meski tidak semua mengadopsi gaya tersebut, tapi pilihan terhadap gaya Jepang atau Amerika nampak pada komikus atau studio komik yang lebih berorientasi pada kondisi pasar sekarang. Kebingungan terhadap komik yang mencerminkan gaya Indonesia bisa dipahami, mengingat komik dengan gaya Indonesia jaman 60 dan 70-an sudah lama mati tanpa sempat melakukan regenerasi. Hampir 20 tahun publik komik kita tidak mengenal komik Indonesia lagi hingga generasi 90-an ini muncul.

Salah satu karya yang cukup fenomenal dari generasi ini adalah terbitnya komik Caroq kemudian disusul Kapten Bandung di bawah bendera Qomik Nasional (QN). Meski Caroq masih kental dengan gaya Marvel, dan Kapten Bandung dengan Herge (Tintin), kemunculan mereka sempat mencuri perhatian publik komik Indonesia. Caroq bahkan sempat dicetak 10 ribu eksemplar. Sayang, QN tidak bertahan lama, meski sudah menerapkan manajemen profesional ala industri komik Amerika. Tahun 1999 akhirnya QN resmi bubar setelah sempat vakum pasca Caroq dan Kapten Bandung (terbit 1996). Selain QN masih ada beberapa nama lagi yang sempat muncul seperti Sraten dengan komik Patriot yang mendaur ulang hero-hero lawas seperti Godam, Gundala, Maza dan Aquanus tapi nasibnya tak jauh beda dengan QN. Begitu pula dengan Animik dengan komik Si Jail yang mirip Kungfu Boy-nya Takeshi Maekawa. Elex Media sebagai penerbit komik Jepang terbesar di Indonesia sempat juga menerbitkan Imperium Majapahit, serta mendaur ulang seri komik wayangnya RA Kosasih dan komik Panji Tengkorak yang gregetnya tidak sedahsyat dulu lagi. Mizan pun tidak ketinggalan membuat divisi penerbitan komik, bekerja sama dengan beberapa komikus dan studi-studio komik, meluncurkan komik serial 1001 Malam kemudian disusul karya Dwi Koen, “Sawung Kampret”.

Komik underground, selain fenomena terbitnya komik lokal pada jalur mainstream, era 90-an juga ditandai munculnya komik-komik gerilya yang terbit dengan modal seadanya. Komik-komik tersebut sebagian besar digandakan hanya dengan mesin fotokopi yang beredar hanya dari tangan ke tangan, melalui perkawanan, dan dari event ke event tanpa jalur distribusi yang pasti sebagaimana komik industri yang tersebar lewat jaringan toko-toko buku besar. Kelompok-kelompok maupun perorangan yang berkarya melalui jalur underground akhir-akhir ini pun makin marak. Komik tersebut rata-rata muncul berbasis di kampus-kampus, dimotori oleh mahasiswa. Sebagai sebuah gerakan, komik underground dengan sudut pandang yang berbeda boleh jadi tidak kalah gemanya dengan Caroq-nya QN meski berbeda jalur. Tema yang ditawarkan komik underground sangat berbeda, tidak terpaku pada heroisme ala komik mainstream, bahkan cenderung menolak budaya dominan.

Cukup banyak contoh kelompok yang bergerak secara undergound, tapi barangkali yang dilakukan oleh Core Comic (1995) kemudian beralih ke Apotik Komik cukup menyentak perhatian publik. Kompilasi komik fotokopian dengan tema Paint It Black, Komik Game, Komik Anjing, dan Komik Haram memberi inspirasi tumbuhnya gerakan-gerakan serupa. Kecenderungan menampilkan tema anti hero bahkan anti narasi dan mendobrak pakem-pakem estetika komik mainstream, kadang dengan warna ideologis yang cukup kental mejadi ciri kuat komik underground. Bahkan eksplorasi komik sudah masuk dalam wilayah seni rupa yang kemudian lebih dikenal dengan art comic. Gerakan ini membutuhkan sebuah resistensi tinggi untuk bisa bertahan lama. Jika kendala komik lokal mainstream adalah pada kegagapan untuk masuk dalam kultur komik industri, maka komik underground sering hanya bersifat sementara saja, konsistensi untuk terus berkarya dan menjaga semangat ideologisnya masih belum teruji benar. Meski demikian siapa pun bisa mengaku underground hanya karena komiknya model fotokopian, padahal dari segi isi masih didominasi gaya mainstream baik dari tema, penampilan grafis, idiom yang dipakai hingga pada dataran filosofis-ideologisnya. Lepas dari apa pun isinya, gerakan komik fotokopian melahirkan semangat independen untuk tidak tergantung pada penerbit-penerbit besar. Meski sifatnya masih temporer dan sporadis, gerakan ini justru pelan-pelan mampu membangun jaringan antar komunitas komik independen, satu hal yang patut dihargai. (Agung ‘A’ Budiman, 2002).

Hingga era 90-an berakhir, wajah komik kita masih menjadi perdebatan. Semestinya persoalan identitas komik Indonesia tidaklah identik dengan mitos dan simbol-simbol yang telah dikonstruksi oleh masa lalu. Ketika dunia makin global, pertemuan antar elemen-elemen budaya melalui teknologi komunikasi tidak terbendung hingga ruang untuk mengkonstruksi identitas baru pun makin terbuka, dan selalu tetap terbuka untuk direkonstruksi atau pun didekonstruksi, mungkin nanti kita tidak perlu lagi istilah komik Indonesia, Jepang, Amerika atau Eropa. Biarlah generasi baru yang menentukan proses mereka sendiri.

Satu hal yang sangat ironis, sekarang banyak komikus muda sibuk dituntut untuk membuat “komik Indonesia”, padahal sebagian besar dari mereka hanya sempat membaca 1 atau 2 buah karya “leluhurnya”. Karena itulah banyak komikus muda yang sulit menemukan gambaran yang sempurna tentang komik Indonesia yang ideal. Padahal kalau dicermati, komik Indonesia masa lalu mengungkap fakta bahwa sejak dahulu para komikus senior tidak pernah memusingkan tentang bagaimanakah “komik Indonesia” yang sebenarnya. Terbukti bahwa mereka juga terpengaruh oleh komik-komik asing pada masa itu. Yang jelas, mereka membuat karyanya dengan sepenuh hati dan jujur, terlihat dari alur cerita yang menarik, karakter yang kuat, serta teknik berkomik yang luar biasa.

Monday, June 23, 2008

Komik Menurutku...

Komik bukanlah suatu hal yang tidak berguna, dengan komik kita bisa mengekspresikan imajinasi kita melalui hal yang positif. Bisa jadi sebuah komik akan menjadi wadah untuk menuangkan segala kreativitas kita. Hal-hal yang tidak mungkin bisa kita lakukan dapat kita wujudkan di dalam berkomik. Idealisme dalam berkomik adalah hal yang wajar, karena komik adalah ungkapan hati dari sang komikus.
Komik juga merupakan media edukasi dan provokasi yang baik, karena selain membaca dengan tulisan kita juga diajarkan melalui gambar, dengan kata lain gambarlah yang bercerita kepada kita sehingga akan lebih mudah untuk dicerna dan dipahami. Bila komik (benar-benar) ditujukan untuk edukasi, otomatis buku-buku pelajaran akan tidak berguna karena dengan komik kita dapat belajar dengan lebih mudah. Satu hal yang perlu untuk diperjelas adalah "komik bukan hanya ditujukan untuk anak-anak" karena setiap komik memilki variasi cerita yang berbeda-beda sesuai dangan tingkatan umur (rating).
Untuk kategori anak, komik tidak mengandung kekerasan, percintaan, politik, SARA, ataupun seksualitas. Cerita dalam komik anak lebih ringan dan tidak berat seperti komik remaja dan dewasa. Tidak membutuhkan pemahaman dan pemikiran yang terlalu rumit. Cukup simpel dan mudah dicerna untuk anak. Biasanya bertemakan edukasi, petualangan, cerita rakyat, persahabatan dan hal-hal yang biasa dilakukan oleh anak-anak pada umumnya.
Komik remaja memiliki banyak sekali variasi tema yang berbeda-beda dan sangat menarik untuk disimak. Kebiasaan dan kehidupan sehari-haripun dapat dijadikan sebuah tema yang pantas untuk remaja. Sedangkan cerita untuk komik dewasa biasanya lebih rumit dan memerlukan pemikiran yang tinggi, lebih dewasa dan lebih eksplisit dari komik remaja. Namun dibalik kesemuanya itu, komik pasti mempunyai sebuah pelajaran dan pesan-pesan moral yang ingin disampaikan oleh komikus komik tersebut kepada para pembacanya.
Akan tetapi ada juga komik yang memang bertujuan SARA dan pornografi tanpa melihat siapakah para pembacanya nanti. Namun hal tersebut hanya segelintir saja, karena di Indonesia ini tema-tema semacam itu tidak diperbolehkan dan dilarang untuk diterbitkan dan diedarkan.
Komik komersial adalah sebuah komik yang memiliki tujuan komersil sesuai dengan selera pasar atau konsumen. Walaupun bersifat komersial, setiap komik tentunya memiliki tujuan yang lain selain bersifat komersial. Setiap komikus memiliki idealisme yang berbeda-beda sesuai dengan pemikiran dan pemahaman masing-masing tentang sebuah komik. Sebuah komik bisa dijadikan media yang berguna dan efektif, dengan komik kita bisa memberikan pemahaman yang berbeda dari sudut pandang yang lain dari yang biasanya kita lihat.
Komik komersial sangat berbeda dengan komik indie yang notabenenya sangat idealis dan tidak sesuai dengan selera pasar. Walaupun sekarang komik indie sudah banyak yang sesuai dengan selera pasar, mungkin karena mereka juga ingin komersial dan eksis seperti komik-komik lainnya.