Thursday, June 26, 2008

Manga

Manga diperkenalkan kali pertama pada tahun 1814 oleh Katsushika Hokusai, seorang seniman ukiyo-e (woodblock printing) yang terkenal. Ukiyo-e adalah teknologi pencetakan pada kertas dengan menggunakan blok-blok kayu. Kata manga dipakai Hokusai untuk menyebut gambar komikal buatannya yang berbeda dengan gambar pemandangan atau manusia yang serius dan indah. Bahkan dia mengartikan “manga” sebagai gambar asal-asalan, karena dia menggambar tanpa tujuan dan tema yang jelas.

Sebelum orang mengenal manga, pada abad pertengahan di Jepang sudah dikenal seni menulis cerita disertai lukisan untuk menggambarkan jalannya cerita. Itupun belum berbentuk buku, tapi masih dalam bentuk gulungan kertas yang disebut emakimono. Baru pada abad ke-18 (zaman Edo), mulai dibuat buku cerita bergambar yang mirip dengan manga sekarang ini yang disebut kusa-zoushi dimana gambar lebih dominan daripada teks.

Buku tersebut dicetak dengan teknologi ukiyo-e dalam beberapa format yaitu akahon, aohon, kurohon, dan kibyoushi sesuai dengan warna sampul masing-masing. Buku cerita bergambar ini ditujukan untuk anak-anak dan orang dewasa yang kurang bisa membaca. Kisahnya bervariasi mulai dari komedi, drama, petualangan sampai yang “dewasa”. Pada akhir abad ke-19, kusa-zoushi terpengaruh gaya kartunis Barat dan mulai beralih menjadi format komik strip seperti yang dimuat di surat kabar negara-negara Barat.

Lahirnya manga seperti yang kita baca sekarang ini ditandai dengan gebrakan yang dibuat oleh Osamu Tezuka. Pada tahun 40-an Tezuka bekerja pada sebuah surat kabar sebagai penggambar komik strip. Merasa tidak puas dengan gaya komik strip yang tidak memberikan kebebasan untuk menampilkan gerakan dan emosi yang diinginkannya, sehingga kreativitasnya jadi terbatas pada 4 kotak, Tezuka mulai menerapkan hal-hal baru seperti teknik close up, permainan angle, efek slow motion dan sebagainya sehingga menghasilkan beratus-ratus halaman untuk satu cerita. Pada tahun 1947 karya Osamu Tezuka berjudul Shintakarajima (New Treasure Island) diterbitkan dalam bentuk akahon berarti “buku merah” (karena sampulnya berwarna merah menyolok).

Akahon adalah buku komik dengan kertas kualitas rendah tapi digemari anak-anak sebagai hiburan murah meriah dikala Jepang dilanda kemiskinan akibat Perang Dunia II. Shintakarajima adalah manga pertama yang memperkenalkan teknik ilustrasi baru Tezuka dan langsung laku keras terjual hingga 400.000 kopi. Sejak saat itu banyak manga-ka (sebutan untuk pembuat manga) yang berlomba-lomba meniru teknik Osamu Tezuka. Gebrakan yang dibuat oleh “God of Manga” ini membuat manga semakin disukai dan industrinya berkembang pesat meski sempat terhalang oleh kondisi Jepang pasca PD II. (Animonster #25, 2001: 42).

Adapun jenis-jenis manga adalah:

  1. Shounen Manga

Shounen manga adalah manga yang lebih dikhususkan untuk pembaca laki-laki antara umur 10-18 tahun. Ceritanya berkisar pada hal-hal yang disukai laki-laki, seperti olahraga atau petualangan seru penuh aksi. Popularitas shounen manga berawal dengan terbitnya dua mingguan shounen pada tahun 1959, yaitu Weekly Shounen Magazine (penerbit Kodansha) dan Weekly Shounen Sunday (penerbit Shogakukan).

Keduanya adalah majalah shounen pertama yang terbit seminggu sekali sebab sebelumnya majalah anak-anak selalu terbit bulanan. Isi kedua majalah ini awalnya sama saja dengan majalah Bobo, yaitu informasi, pengetahuan dan hiburan berupa manga.

Waktu itu manga cuma sekitar 40% dari isi majalah. Ternyata manga-lah yang menjadi daya tarik utama majalah tersebut, maka penerbit segera menambah porsi manga hingga lebih dari setengah jumlah halaman yang tersedia. Dalam waktu singkat Shounen Magazine dan Shounen Sunday menjadi bacaan tetap anak-anak yang mayoritas adalah laki-laki. Tema manga yang paling digemari waktu itu adalah kisah petualangan, humor dan science fiction yang diilhami oleh karya-karya Tezuka.

Namun kemudian para pembaca majalah shounen mulai beranjak dewasa dan banyak pemuda beralih dari majalah anak-anak ke gekiga, yaitu manga dengan cerita bertema serius yang disewakan di toko-toko manga. Kisah gekiga lebih bersifat realistis dengan kesan suram dan diwarnai kekerasan.

Gekiga yang disukai muda-mudi dan orang dewasa ini membuka peluang bagi munculnya majalah seinen (pemuda berumur 18-25 tahun) seperti Manga Action dan Big Comic yang memuat manga dengan gaya cerita gekiga. Persaingan ketat antara majalah seinen dan shounen dalam memperebutkan pasar ini membuat para manga-ka mengubah gaya mereka.

Shounen manga mengadaptasi gaya gekiga untuk mempertahankan pembaca yang mulai tumbuh dewasa. Sedangkan gekiga yang bernuansa suram dan serius diubah menjadi lebih cerah dengan humor khas shounen manga. Tetapi perubahan ini justru menyebabkan Shounen Magazine dan Shounen Sunday ditinggalkan oleh pembaca cilik mereka yang kemudian memilih membaca Weekly Shounen Jump (penerbit Shueisa) yang tetap mempertahankan gaya shounen manga murni.

Saat pertama kali terbit di tahun l968, Shounen Jump tidak ada apa-apanya dibandingkan dua raksasa majalah shounen pendahulunya. Manga-ka yang bekerja pada penerbit Shueisa cuma komikus-komikus baru yang belum punya nama karena para manga-ka terkenal telah dimonopoli Kodansha dan Shogakukan. Keadaan ini malah berbalik menjadi keuntungan bagi Jump sebab penerbitnya dapat mengatur manga-ka mereka untuk membuat manga sesuai dengan selera pembaca yang mereka ketahui dari hasil survei pembaca.

Para manga-ka terkenal itupun tidak mau kreativitasnya didikte. Mulai tahun 70-an, Jump berhasil mengumpulkan lebih banyak pembaca daripada Shounen Magazine dan Shounen Sunday. Setiap tahunnya oplah Jump meningkat terus hingga jutaan eksemplar per tahun. Hingga kini Shounen Jump merupakan majalah shounen terpopuler di Jelpang dan sudah menerbitkan manga-manga keren seperti Dragon Ball karya Akira Toriyama, Slam Dunk karya Inoue Takehiko dan Rurouni Kenshin-nya Watsuki Nobuhiro. (Animonster #25, 2001: 42-43).

  1. Shoujo Manga

Shoujo manga yaitu manga yang lebih diperuntukkan bagi anak perempuan. Jepang adalah negara pertama yang mempelopori lahirnya komik khusus untuk kaum hawa dan satu-satunya di dunia yang perkembangan komik perempuannya sangat maju.

Di negara-negara Barat, komik selalu dianggap sebagai boy’s stuff sehingga tidak pernah ada inisiatif untuk membuat komik perempuan. Sementara di Jepang shoujo manga berkembang sama seperti shounen manga. Lagi-lagi kita penggemar manga, terutama shoujo, harus berterima kasih pada Tezuka sensei. Dulu shoujo manga hanya dibuat dalam bentuk komik strip dengan kisah sederhana yang lebih bersifat humor. Kemudian Tezuka mempelopori shoujo manga yang lebih panjang dan menggunakan teknik ilustrasi yang lebih menarik serta mengkombinasikan tema petualangan, tragedi dan humor dalam karyanya yang berjudul Ribon no Kishi (Knight of Ribbon) yang diterbitkan pada tahun 1954.

Sejalan dengan perkembangan shounen manga, shoujo manga juga terbit dalam majalah bulanan shoujo seperti Ribon dan Nakayoshi. Tetapi mayoritas manga-kanya adalah manga-ka pria yang juga mengarang komik untuk majalah shounen. Sebelum tahum 1960 manga-ka wanita masih sangat jarang. Tema shoujo manga waktu itu masih berkisar pada anak sekolahan atau hubungan ibu-anak dengan nuansa komedi, horor atau tragedi yang membuat pembacanya meneteskan air mata. Belum ada kisah percintaan romantis seperti sekarang.

Baru setelah tahun 1963 ketika majalah bulanan shoujo berubah menjadi mingguan, dibutuhkan lebih banyak manga-ka sehingga komikus wanita mulai bermunculan. Uniknya para manga-ka wanita ini rata-rata masih belia. Tahun 1964 Nakayoshi menerbitkan karya pertama Machiko Satonaka, manga-ka berumur 16 tahun. Bahkan setelah diamati, ternyata manga-ka wanita lebih mampu menyajikan kisah yang disukai pembacanya. Sejak itu popularitas shoujo manga dan manga-ka wanita menanjak dan menyamai kesuksesan shounen manga. Dengan makin meluasnya peminat shoujo manga, tema ceritanya pun berkembang, tidak lagi terbatas pada stereotype anak sekolahan (school girls). Kisah petualangan dan fantasi yang menjadi ciri khas shounen manga juga menjadi tema shoujo manga dimana jagoan utamanya adalah perempuan.

Edisi mingguan ternyata tidak bertahan lama pada majalah shoujo. Para manga-ka menjadi terburu-buru dalam menyelesaikan karyanya sehingga hasilnya kurang memuaskan. Oleh karena itu edisi mingguan berubah menjadi dua mingguan dan banyak majalah yang kembali terbit bulanan. Kelonggaran waktu ini membuat para manga-ka lebih santai dan mampu berkarya secara maksimal dalam pengolahan karakter yang lebih dalam, suasana dan setting yang mendetail untuk mendukung cerita. Mereka juga mulai mengeksplorasi tema-tema baru seperti kepahlawanan, science fiction, bahkan menampilkan kisah percintaan yang lebih “berani”, yang dibumbui dengan shounen-ai (percintaan laki-laki dengan laki-laki) dan shoujo-ai (percintaan perempuan dangan perempuan).

Variasi tema ini menyebabkan shoujo manga tidak cuma disukai anak sekolahan, tapi juga digemari wanita muda bahkan yang sudah berumah tangga. Dengan alasan ini tahun 80-an penerbit mengeluarkan josei manga dengan target pembaca wanita muda di atas 18 tahun, misalnya majalah YOU, Judy dan Comic Amour. Josei manga disukai para office ladies dan ibu-ibu muda karena gaya ceritanya mirip telenovela yang menampilkan kisah percintaan, shounen-ai bahkan pornografi (hukum sensor di Jepang lebih toleran terhadap pornografi).

Saat ini popularitas shounen manga dan shoujo manga sudah setara, tapi tak dapat disangkal kalau lebih banyak shoujo manga (baik dalam judul, manga-ka, maupun pembacanya) daripada shounen manga. Di Indonesia saja Serial Cantik dan Serial Misteri/ Horor mendominasi terbitan manga. Lagipula bagi para perempuan di luar Jepang yang di negaranya tidak tersedia komik untuk perempuan, shoujo manga-lah yang bisa memenuhi selera mereka.

Tetapi sebenarnya kaum laki-laki tidak perlu merasa malu untuk membaca shoujo manga karena tidak sedikit shoujo manga yang ceritanya tidak kalah seru daripada shounen manga. Banyak perempuan yang menggemari shounen manga, berdasarkan survey di Jepang, majalah manga favoritnya anak perempuan adalah Shounen Jump. (Animonster #25, 2001: 43-44).

  1. Doujinshi

Doujinshi adalah manga, tetapi kisah-kisah doujinshi lebih banyak dibuat berdasarkan cerita manga yang sudah ada dan dibuat oleh penggemarnya. Jadi bisa dibilang, doujinshi adalah fanfic dalam bentuk komik.

Awalnya yang membedakan doujinshi dengan manga adalah doujinshi dibuat oleh komikus amatir. Kisahnya juga bukan berdasarkan manga karangan orang lain, tapi karya orisinil sang komikus. Tapi kemudian muncul doujinshi yang dibuat oleh manga-ka profesional (biasanya memakai nama samaran) berupa parodi atau side story dari manga karangannya. Hal ini lantas diikuti oleh para penggemar manga. Sama seperti fanfic, biasanya mereka membuat kelanjutan dari manga yang sudah tamat, ending yang berbeda atau jalan cerita lain sesuai dengan kehendak hati mereka. Dan tidak sedikit para doujinshi-ka yang gambarnya mirip dengan manga aslinya.

Di Jepang membuat dan memasarkan doujinshi bukanlah perbuatan ilegal atau melanggar hak cipta, walaupun dibuat tanpa izin resmi dari pengarang aslinya. Hanya seperti layaknya komik amatiran, doujinshi dicetak dan dipasarkan sendiri oleh doujinshi-ka (sebutan untuk pengarang doujinshi) misalnya dikalangan teman-teman, toko buku bekas atau Comiket (comic market) yaitu bursa buku yang lebih banyak memperjualbelikan doujinshi. Meski begitu di Jepang sudah banyak penerbit yang mau menerbitkan doujinshi.

Sayangnya doujinshi sering digunakan orang untuk membuat versi “miring” dari manga aslinya alias mengandung unsur erotis dan pornografi. Alasannya? Mungkin supaya lebih laku untuk dijual, karena terbukti doujinshi dari manga-manga beken seperti Salior Moon dan Rurouni Kenshin diminati sama seperti manga aslinya. Walaupun itu bukan hal yang baik, setidaknya kita tahu bahwa komik amatir di Jepang dapat eksis secara independen. Hal ini mendorong munculnya banyak manga-ka baru yang sebelumnya adalah doujinshi-ka. (Animonster #25, 2001: 44).

Biasanya komik atau manga dikarang dan digambar oleh komikus itu sendiri dengan bantuan dari asisten masing-masing. Namun ada juga penulis cerita manga, tapi tidak menggambarnya yaitu genshaku-sha. Genshaku-sha hanya menulis cerita lalu digambar oleh manga-ka. Mereka bekerja sama dalam membuat manga, tapi ada pula kerja sama dalam bentuk lain dimana genshaku-sha menerbitkan karyanya dalam bentuk novel dan manga-ka membuat versi manganya atau mengerjakan ilustrasi untuk novelnya.

Di Indonesia manga terbit dalam bentuk buku per jilid. Di Jepang manga terbit dalam bentuk majalah baik secara bulanan maupun mingguan, jadi masih dalam bentuk kompilasi. Biasanya satu bab setiap kali terbit, setelah manga berseri tersebut komplit baru diterbitkan dalam bentuk tankoubon (komik buku). Dan akhir-akhir ini PT. Elex Media Komputindo (penerbit dan distributor manga di Indonesia) mulai menerbitkan manga kompilasi dalam bentuk buku.

2 comments:

Anonymous said...

thx.. it really helps ^-^ ~

kemotaku said...

You're welcome :D